Showing posts with label Binatang. Show all posts
Showing posts with label Binatang. Show all posts

Saturday, May 23, 2009

Paus Biru


Di Pelabuhan Acapulco, RV Pacific Storm tampak mencolok mata di antara sejumlah kapal yacht putih. Pacific Storm adalah sebuah kapal kerja bertubuh hitam yang di masa lalu hidup sebagai kapal pukat di Pantai Barat dan kini terlahir kembali sebagai kapal penelitian (research vessel). Kapal pukat sepanjang 26 meter berhaluan tinggi hitam dengan mimik yang serius tersebut adalah kapal yang cocok untukku. Jika diminta untuk memilih kendaraan, dari sekelompok kapal ini, untuk membawaku berkelana selama sebulan untuk berburu paus biru, aku takkan ragu sedikit pun. Ketika aku dan Flip Nicklin meniti tangga-tangganya dengan membawa perlengkapan dan lalu menyimpannya di kabin kami, aku merasakan kegembiraan yang nyaris liar.

Panggil aku Ishmael jika kau mau. Setiap kali kudapati mulutku mulai cemberut, setiap kali jiwaku terbenam dalam rinai hujan bulan November yang lembap, setiap kali kuhabiskan terlalu banyak deretan bulan waktuku pada papan ketik komputer di bawah siraman cahaya buatan, seperti penghuni gua, terpenjara sendiri, mengetik untuk mencari nafkah, kuputuskan bahwa itulah saatnya untuk secepat mungkin menuju ke laut. Kusambar penugasan di Pacific Storm. Karena perjalanan akan dimulai pada 3 Januari, kuucapkan tiga ikrar tahun baru. Aku akan berusaha menjadi teman berlayar yang menyenangkan. Aku akan memangkas semua kalimat bertele-tele dalam tulisanku. Aku akan menahan diri untuk tak sekali pun menyebut Herman Melville. Sudahkah kukatakan bahwa kami memburu paus putih?

Memang benar. Dalam populasi paus biru di timur Pasifik Utara—kawanan paus yang menghabiskan sebagian besar musim panasnya di lepas pantai California dan yang migrasinya ke selatan kami ikuti—terdapat satu paus biru yang putih. Mungkin seekor bulai, albino. Sebuah perahu karet dari Pacific Storm telah menancapkan pening satelit pada paus tersebut di lepas pantai Santa Barbara empat bulan sebelumnya. Namun, pening si jantan, nomor 4172, berhenti mengirimkan sinyal beberapa pekan setelah ditanam. Kini, keberadaan si jantan menjadi misteri. Satelit heliosinkron pengorbit kutub TIROS N tidak lagi dapat melacaknya, tetapi si bulai itu adalah salah satu paus yang diharapkan dapat kami lihat di lepas pantai Amerika Tengah.
Ketika kami sudah nyaman berada di Pacific Storm, Nicklin, menyiapkan Nikon D200 miliknya, memasang lensa kubah bawah air Sea & Sea sambil duduk bersila di ranjangnya. Dipencetnya sebuah tube kecil, mengeluarkan sedikit gemuk silikon ke ujung jarinya, lalu mengoleskannya di sekeliling tepi cincin-O berwarna biru pada kubah itu. Dibukanya bagian belakang kamera, lalu pada stern dilakukannya hal yang sama seperti yang tadi dilakukannya pada cincin-O. Nicklin adalah pemburu paus jenis baru. Tugasnya bukan mencairkan minyak dari lemak, tetapi menangkap hakikat dari cetacea dan Nikon adalah seruit favoritnya.

Pacific Storm mulai melaut. Kami melayari tahapan pengarungan dengan ke selatan untuk menghindari angin Tehuantepec di sepanjang lekukan Amerika Tengah yang mengarah ke timur. Lalu kami berbelok ke barat daya menuju anomali suhu yang menjadi tujuan kami.
Kubah Kosta Rika adalah perairan kaya hara, tempat air dingin dari kedalaman naik ke permukaan. Hal itu diakibatkan oleh pertemuan angin dan arus di sebelah barat Amerika Tengah. Lokasi Kubah Kosta Rika tidak tetap; berkelak-kelok sedikit, tetapi kubah tersebut biasanya ditemukan antara 500 kilometer hingga 800 kilometer lepas pantai. Pembalikan massa air membawa serta termoklin—lapisan batas antara air dingin di kedalaman dan air hangat di permukaan—naik hingga setinggi 10 meter dari tepi atas lapisan (from the top). Pembalikan dengan air dingin yang miskin oksigen dari kedalaman membawa nitrat, fosfat, silikat, dan hara lainnya. Ini Manna ini, atau anti-manna—karunia bukan dari surga, melainkan dari laut dalam—menciptakan oasis di segara. Hara yang naik ke permukaan di perairan kubah menyuburkan tumbuhan renik fitoplankton yang menjadi pakan satwa renik zooplankton. Zooplankton mengundang satwa yang lebih besar, beberapa di antaranya memang sangat besar.

Paus biru, Balaenoptera musculus, adalah makhluk hidup terbesar. Linnaeus mengambil nama genus tersebut dari kata Latin balaena yang berarti “paus” dan kata Yunani pteron yang berarti “sirip” atau “sayap.” Nama spesiesnya, musculus, adalah kependekan kata Latin mus yang berarti “tikus”—jelas ini canda á la Linnaeus. “Paus tikus kecil” dapat tumbuh hingga seberat 200 ton dan sepanjang 30 meter. Seekor paus mencit kecil dapat mencapai berat setara dengan seluruh anggota pasukan sepak bola. Seperti halnya gajah yang mungkin dapat memungut seekor tikus kecil dengan belalainya, seekor gajah mungkin dapat diangkat oleh seekor paus biru dan dibawa di atas lidahnya yang berukuran raksasa. Seandainya seseorang disuntikkan ke dalam pembuluh darah paus biru, alih-alih tertelan, dia akan dapat merenangi pembuluh darah arteri paus ini, terdorong setiap sekitar sepuluh detik sekali oleh denyut nadinya yang lambat.
Kecepatan renang paus biru yang amat laju, serta keterpencilan lokasi perkubuannya—tempat pertemuan tiga samudra Bumi di perairan sedingin es di seputar Antartika—melindungi sebagian besar spesies tersebut hingga awal abad ke-20. Dengan diciptakannya harpun ledak dan kapal penangkap tenaga uap yang cepat, kubu paus biru pun berhasil diterobos. Selama enam dasawarsa pertama abad ke-20, 360.000 ekor paus biru dibunuh. Populasi paus biru di seputar Pulau Georgia Selatan telah tersapu habis bersama paus-paus yang dahulu mencari makan di pesisir Jepang. Sejumlah populasi paus biru berkurang 99%, dan spesies tersebut pun berada di ujung jurang kepunahan.

Bagi Bruce Mate dan John Calambokidis, dua ketua ilmuwan di Pacific Storm, keadaan ironis itu begitu mencekam dan pedih. Paus biru yang mereka pelajari, yakni 2.000 satwa yang menghabiskan musim panas di lepas pantai barat Amerika Utara. Kelompok itu dulu hanya hanya kecil saja, tetapi kini anggota populasinya cukup berarti.

Mate, direktur Marine Mammal Institute di Oregon State University, adalah pemasang pening-satelit paus yang paling produktif dan paling berdaya cipta. Untuk pertama kalinya, paus-paus di kubah tersebut menarik perhatiannya pada 1995, ketika seekor paus biru yang dia pasangi pening di lepas pantai California pada musim panas mulai mengirimkan sinyal dari lepas pantai Kosta Rika pada musim dingin. Calambokidis, salah seorang pendiri Cascadia Research di Olympia, Washington, adalah pengidentifikasi paus melalui foto yang paling produktif di Pantai Barat. Calambokidis, ahli biologi berperawakan ramping dan tinggi, berjanggut seperti pelaut Quaker, yang berdedikasi seperti seorang maniak tunggal untuk membawa kembali gambar-gambar yang tengah dikajinya, terpukau oleh laporan dari satelit itu. Pada tahun 1999, dia melakukan survei awal perairan kubah dengan perahu layar. Pengarungan tersebut dikacau cuaca buruk dan perahu layar terlalu kecil untuk menjalankan misinya. Meski demikian di perairan kubah tersebut, Calambokidis berhasil mengenali sepuluh ekor paus lewat analisis foto yang dulu diambil di lepas pantai California.

Mengapa ada paus biru yang meninggalkan areal pencarian makannya di akhir musim panas dan bermigrasi ribuan kilometer untuk menghabiskan musim dingin di kawasan tropis tempat terjadinya pembalikan massa air ini? Mate dan Calambokidis mengira mereka tahu alasannya. Data satelit menunjukkan bahwa beberapa ekor paus berpening tetap berada di perairan kubah selama lima bulan atau lebih. Mamalia-mamalia laut itu tiba lebih awal di daerah migrasi selatan tersebut dan pergi belakangan—sebuah pola yang dalam spesies paus balin lainnya terlihat pada betina bunting dan induk baru. Namun, fenomena itu tak pernah teramati sebelumnya pada paus biru dengan alasan yang paling masuk akal, tidak seorang pun pernah menyaksikan kelahiran paus biru. Paus kelabu (Eschrichtius robustus), paus bongkok (Megaptera novaeangliae), dan paus sikat (Eubalaena)—spesies balin yang diteliti di kawasan tempat mereka beranak—tampaknya hanya makan sedikit saja, atau nyaris tidak makan sama sekali, di kawasan tersebut. Namun, ada bukti yang menunjukkan bahwa paus biru mungkin tidak begitu. Mengingat ukuran tubuh yang luar biasa besar dan kebutuhan akan energi yang begitu banyak, paus biru mungkin terpaksa mencari kawasan tempat menghabiskan musim dingin yang membuat satwa tersebut memperoleh lebih dari sekadar cemilan. Oasis Kubah Kosta Rika memenuhi syarat ini. Selain itu, produktivitas di kawasan pembalikan massa air tersebut dapat membantu induk-induk yang tengah menyusui mengubah kawanan udang kecil menjadi bergentong-gentong susu yang dibutuhkan anak paus agar tumbuh besar, 90 kilogram sehari.

Balaenoptera musculus mendapat perlindungan internasional pada pertengahan 1960-an, tetapi dengan alasan yang tidak sepenuhnya dipahami, populasi tidak pulih seperti yang diharapkan. Jika satwa terbesar itu diinginkan benar-benar pulih kembali, Mate dan Calambokidis yakin, demografi dan pergerakannya perlu harus dicatat. Populasi terbesar paus biru yang tersisa paling rentan di perairan tropis yang jadi tempatnya melahirkan anak sepanjang delapan meter dan seberat tiga ton yang ringkih.

Seraya mengikuti koridor migrasi paus biru ke selatan, secara bergantian kami berdiri di bridge (pusat komando kapal) untuk mengamati paus, mencari kalau-kalau tampak semburan di cakrawala. Menurut satelit, paus 5801 dan 23043 sudah tiba di kubah dan nomor 5670 sedang mendekatinya. Para ilmuwan terutama tertarik pada 23043 karena mereka mengetahui jenis kelaminnya, betina, dan karena paus itu tiba di kubah lebih dini, sebagaimana yang diharapkan dari calon induk. Paus biru yang berwarna putih, nomor 4172, seandainya bermigrasi ke kubah tahun ini, berada di luar sana dalam kawanan yang bergerak ke selatan. Bagaimanapun Pasifik adalah samudra yang amat luas dan kami tidak melihat satu pun semburan.

Sesekali, di siang maupun malam, kapal dihentikan, dan para peneliti membawa peralatan ke atas kapal: alat sensor CTD, alat penduga gema, dan sebuah hidrofon. Alat sensor CTD merekam konduktivitas (ukuran salinitas), temperatur, dan kedalaman. Alat penduga gema berfungsi mencari konsentrasi krill (udang kecil), santapan yang nyaris menopang seluruh kehidupan paus biru. “Kami melakukan pengamatan kontrol ke bawah,” begitu Mate menjelaskan. “jika tidak ada krill, akankah paus lewat? Jika konsentrasi krill berlimpah, akankah paus berhenti di sana? Kami mencari tinja. Kami akan berusaha menciduknya, meneliti apakah paus itu makan. Kami juga memeriksa napas mereka yang lebih busuk baunya jika mereka makan. Menurutku, napas paus biru tidak bau—sama sekali tidak bau jika dibandingkan dengan napas paus kelabu, yang sangat busuk baunya—tapi, bau napas paus biru bisa sangat menyengat.”

Hidrofon berfungsi mendeteksi suara paus biru. Nyanyian sederhana yang disuarakan paus biru jantan—entakan, suara denyut berdentam berat dan nyaring dari suara A yang diikuti nada sambung-menyambung suara B—adalah suara paling lantang di lautan, yang secara teori sanggup menyebar separuh jarak cekungan samudra. Namun, paus balin besar biasanya meluncur tanpa suara. Kecuali beberapa nyanyian singkat yang meragukan, kami tidak mendengar suara apa pun.

Ketika tiba di Kubah Kosta Rika, tiga hari selepas Acapulco, samudra tampak sama saja, hanya cakrawala biru dan alunan ombak. Dibutuhkan suara dari sensor CTD untuk mendeteksi termoklin yang terletak hanya 20 meter di bawah permukaan. Kami telah tiba. “Semburan di arah jam 11!” Calambokidis berseru keesokan paginya dari tiang melintang penopang layar, melalui portofon (walkie-talkie). Kami melihat dua semburan lagi berdampingan, menyembur cepat berturut-turut—paus biru kami yang pertama—dan kami pun meluncurkan perahu pening, memulai ritual berulang yang akan membuat kami sibuk selama tiga pekan ke depan.
Perahu itu adalah perahu ekstra milik Coast Guard (Penjaga Pantai), sepasang RHIB bertenaga diesel atau perahu karet dengan lambung kaku. Dengan tetap mempertahankan penamaan berdasarkan meteorologi, kami menamai perahu yang besar Hurricane, sementara yang kecil kami namai Squall. Biasanya aku berlayar dengan Hurricane dengan nakhodanya Bruce Mate. Rekan (mate) kedua yang juga nyonya Mate, adalah Mary Lou, juru kamera video ekspedisi dan sudah menjadi pendamping hidup si profesor selama 40 tahun. Aku sebagai juru biopsi. Tugasku yang pertama adalah menyiapkan busur-silangku, mengambil tabung biopsi dari kotak pendingin yang berfungsi sebagai kotak amunisi, memasangkannya ke busur, kemudian melepaskan selubung foil aluminium yang melindungi ujungnya agar tidak terkontaminasi oleh DNA dari luar. Tabung itu, pada saat ditembakkan ke tubuh paus akan menyayat sebongkah kulit dan lemak. Sekitar delapan sentimeter di belakang ujungnya, tabung itu dihalangi oleh sebuah bola lonjong dari karet kuning yang mencegah proyektil masuk terlalu dalam dan juga berfungsi melontarkannya keluar dari tubuh paus.

Sebuah cucur kapal dari logam yang disebut “mimbar” tampak menjulang di lambung karet Hurricane. “Mimbar” dibuat khusus untuk penelitian ini. Setiap kali kami berhasil mendekati paus, aku membuntuti Profesor Mate naik ke jeruji besi yang sempit di dek mimbar. Dari selubungnya, yakni tabung plastik tembus pandang yang diikat ke pagar mimbar, Mate mengeluarkan “aplikator” pening satelit, sebuah bedil dari logam merah berlaras panjang dengan popor kayu. Alat ini, yang aslinya adalah penemuan orang Norwegia untuk menembakkan tali pancing di antara kapal dengan kapal, mendapatkan tenaganya dari udara mampat dari tangki alat penyelam. Letusannya dapat disetel. Untuk paus biru, Mate menyetel putarannya pada 6 kilogram per cm persegi untuk tekanan. Untuk paus sperma (Physeter macrocephalus), yang kulitnya sangat keras, Mate menyetel tekanan pada 8 kilogram. Aku dan Mate sama-sama mengenakan harnes pinggang yang kami kaitkan ke tali pengaman di pagar mimbar sehingga tangan kami bebas untuk menembak. Bagian pertama yang kami lihat dari seekor paus hampir selalu semburannya.

Ketika Matahari sudah berada di belakang kami, terkadang kami melihat tebaran warna-warni prismatik dalam ledakan semburan dan uap yang menyebar—pelangi selama sepersekian detik, kemudian warna itu memudar dan pancaran itu berangsur-angsur memutih.
Setiap kali paus biru berenang ke permukaan untuk menyembur dalam jarak yang dekat, aku terpukau oleh lubang semburnnya—sepasang lubang hidung yang terbenam di puncak penangkal-percikan yang tampak seperti timbunan daging meruncing, mirip hidung di bagian belakang kepala. Paus balin lainnya juga memiliki penangkal-percikan, tapi tidak seperti yang ini. Hidung yang ini seperti hidung orang Roma. Ukurannya besar dan tidak proporsional, bahkan juga untuk paus terbesar. Ukurannya yang besar tersebut menjelaskan mengapa hembusan napas paus biru begitu nyaring bertenaga—tidak seperti bunyi napas, melainkan seperti ledakan—dan ukurannya yang besar itu menjelaskan mengapa semburan air paus itu setinggi sembilan meter. Semburan yang sangat bertenaga dan diikuti dengan cepat oleh tarikan napas yang juga sangat bertenaga.

Hal kedua yang kami lihat adalah punggungnya. Paus biru “secara keseluruhan berwarna abu-abu muda kebiruan, dihiasi bercak berwarna abu-abu atau putih kelabu,” sebagaimana digambarkan oleh seorang pemandu lapangan, dan memang benar punggung paus biru biasanya menampilkan warna ini, tetapi sering juga punggung itu tampak abu-abu keperakan atau warna kulit yang pucat, tergantung cahaya. Yang mana pun warnanya, punggung paus biru selalu mengilap. Dari dekat, akan terlihat air membilas punggung raksasa itu, mula-mula mengalir seperti anak sungai dan lembaran air, kemudian berupa lapisan tipis yang mengalir dengan indahnya, dengan pola berdenyut-denyut menurun memasuki lautan.

Jika di atas air warna paus biru hanya biru, kurang-lebih, di bawah air satwa itu tak diragukan lagi tampak berwarna biru pirus. Balaenoptera musculus adalah paus pucat, dan ketika dilihat melalui filter biru, yakni lautan, warna pucatnya berubah menjadi biru pirus atau hijau kebiruan atau akuamarin. Tampilan paus biru di bawah air dengan kedalaman 5-15 meter air adalah yang paling menghantui dan menggugah diriku.

Jika warna terelok yang ditampilkan paus biru adalah biru pirus, bentuknya yang tercantik, patung yang terindah, adalah sirip ekornya. Pada pekan pertama upaya kami memasang pening, ekor paus biru selalu tampak seperti melambai-lambai mengucapkan selamat tinggal. “dadah,” begitu lambaiannya. “Boleh juga usahamu. Lain kali lebih beruntung ya.” Manakala paus menunjukkan sirip ekornya—ketika dua bilah yang mirip telapak tangan menjulang tinggi di udara—kami menghentikan pengejaran karena ujung ekor yang menjulang tinggi berarti penyelaman yang dalam.

Namun, ada kalanya kami melihat ujung ekor itu berada di bawah air dekat permukaan. Bagian itu besar sekali, lebih lebar daripada perahu dan saat bergerak sungguh indah memukau. “Tidak ada makhluk hidup lain yang menampilkan garis kemolekan lebih indah daripada yang ditampilkan oleh garis tepi bak bulan sabit dari sirip ekor ini,” tulis Melville dalam Moby Dick.
Bagian terakhir yang kami lihat dari paus tesrebut adalah "jejak ekor”nya.

Ketika paus atau lumba-lumba berenang di air dangkal, turbulensi yang diakibatkan oleh sirip ekornya naik membentuk lingkaran air di permukaan; inilah jejak kaki atau jejak sirip ekor. Jejak sirip ekor paus biru amat besar dan lama tak dinyana. Lapisan air yang mulus itu masih tetap ada ketika si paus sudah lama berlalu. “Ini menunjukkan betapa besarnya tenaga yang digunakan pada kayuhan ekor itu,” kata Mate di suatu siang ketika dia melihatku menatap salah satu lingkaran tersebut. Lingkaran jejak ekor benar-benar mulus, kecuali adanya sedikit ombak lemah yang menandai pembalikan massa tenaga itu. Pada akhirnya sayatan air laut mulai mengikis kilapan melingkar itu dari luar ke dalam, tetapi dengan amat lambat.

Jejak ekor yang kuat itu adalah salah satu dari sekian tanda yang mengecilkan hati, yang membuat kami menghentikan pengejaran. “Astaga!” seru Mate di suatu siang, kala kami bergerak masuk ke tengah-tengah lingkaran yang sangat besar. Ladd Irvine, asisten peneliti yang bertugas sebagai jurumudi, tertawa kagum: “Kita tak akan melihatnya lagi untuk sementara waktu.”

Di mimbar, sang profesor merentangkan kedua kaki menyeimbangkan diri, menyenderkan pantat aplikatornya di atas kisi besi dek mimbar, dan mencengkeram laras tepat di bawah ujung tajam pening satelit yang mengisi mulut senapan. Celana khakinya yang cepat mengering menantang angin dan berkibar-kibar dihembus angin laut, dan sesekali angin semilir membawa bau menyengat, bau basi dan apak, kadang bercampur bau kentut yang busuk. Ya ampun, Bruce! Begitu pikirku berkali-kali. Kemudian di suatu hari, di kala angin berdesir di celana khakinya dan kami mendekati semburan di depan, si profesor mengeluarkan ledakan bau yang begitu menyengat, tak manusiawi, dan begitu busuk sehingga aku baru sadar bahwa Mate pastilah tidak bersalah. Yang selama ini kucium bukanlah bau pemimpin kami. Aku mencium bau busuk napas paus biru.

Selama hampir sepekan di perairan kubah, semua paus berkelit dari kami. Pada hari keenam, keberuntungan kami berubah. Kami melihat tiga semburan di arah tenggara pagi itu. Kami pun meluncurkan Hurricane.

Seperti biasa, dua ekor paus yang pertama mempermainkan kami. Membiarkan kami mendekat, lalu menjauh lagi. Yang ketiga membiarkan kami berada dalam posisi yang sempurna. Kami mengimbangi kecepatan si biru pirus raksasa, tetap berada di samping sirip ekor tatkala paus itu meluncur di bawah air di sisi lambung kanan perahu. Di saat berenang ke permukaan untuk menyemburkan udara, satwa itu berubah warna dari biru pirus yang samar-samar menjadi warna yang tajam seperti dalam foto. Irvine menambah tenaga mesin. Di atas mimbar, kulepaskan pengaman busur-silangku. Mate mengepit popor aplikator pening di bahunya, menjulur ke luar pagar mimbar, dan mengarahkan laras merah panjang nyaris tegal lurus ke bawah ke paus yang sedang naik ke permukaan itu, yang sekarang hanya berada tiga meter di bawah permukaan. Paus itu menyembur dan dinding bagian samping tubuhnya yang mengilap menyeruak seperti kurva tajam di atas laut.

Sebagai juru biopsi, aku diperintahkan untuk menunggu suara letusan aplikator pening sebelum menembakkan busur-silangku. Tubuh samping si paus yang mulus memenuhi bidang pandanganku; tidak mungkin tembakanku luput. Ketika terdengar suara letusan aplikator, kutekan picu. Peluru bautkuku melesat dari busur-silang dan sebuah lubang hitam, kecil tetapi penuh darah hitam muncul di bagian yang kubidik. Butuh waktu sepersekian detik ketika kusadari bahwa akulah penyebab luka itu dan kurasakan hempasan rasa sesal dan bersalah. Akukah yang melakukan hal itu? Aku merasa seperti anak lelaki yang bola pukulan kastinya menembus jendela kaca.

Kemudian, aku kembali tersadar akan ukuran luka tersebut. Jika dibandingkan dengan ukuran tubuh paus yang luas, lubang buatanku ibarat gigitan nyamuk. Ini bukan kejahatan; ini tembakan demi ilmu pengetahuan. Di mimbar, aku dan Mate melepas kaitan harnes lalu bersalaman.
Paus biru menulis catatan panjang di permukaan laut. Terdapat riak berbentuk bulat telur di atas kepalanya sesaat sebelum paus muncul ke permukaan, riak panjang dan sempit yang dihasilkan oleh punggung yang membusur dan riak melingkar yang dihasilkan oleh jejak sirip ekornya. Terdapat percikan air mancur putih, dihasilkan oleh paus biru yang menyemburkan udara lebih dini ketika masih meluncur di bawah permukaan—urutan semburan prematur. Terdapat letupan gelembung. Untuk pertama kalinya aku menyaksikan semua ini tidak jauh di depan cucur kapal, sekitar empat meter dalamnya, di saat lubang sembur seekor paus meletupkan gumpalan besar gelembung. Gelembung itu menyebar ke permukaan, transparan dan gemerlap, seperti lampu kristal jatuh ke atas. “Letupan gelembung,” kata Mate sambil mengamatinya.

Letupan gelembung yang ini tampak seperti komentar yang ditujukan ke perahu kecil kami yang begitu gigih dan menjengkelkan—semacam hardikan paus, barangkali. Letupan itu menjulang di atas kepada si paus seperti balon ucapan dalam buku komik. Pesan yang disampaikannya berbunyi seperti begini: “@*#&%√!?!”

Dari semua tanda yang “ditulis miring” oleh paus biru, yang paling berwarna adalah jejak tinjanya. Tinja pertama yang kami lihat berasal dari anak paus berusia sekitar 1 tahun, si biru kecil yang panjangnya 15 meter. Paus ini menyembur dari jarak 12 meter dan di belakangnya lautan menjadi cerah oleh jejak panjang berwarna merah-jingga. “Itu tinja,” kata Irvine mengumumkan. Jejak panjang ini, alur merah bata yang terdiri atas krill yang sudah dicerna, lebih encer daripada cairan yang mengandung padatan, merupakan bukti langsung pertama kami bahwa paus biru makan pada musim dingin di Kubah Kosta Rika. Karena ini adalah salah satu hipotesis yang hendak diuji dalam ekspedisi ini, Mate bergegas mencari kantong plastik Ziploc untuk mengambil sampel.

Bukti tentang kegiatan makan yang kami amati langsung dalam ceceran tinja dipertegas oleh hasil uji laboratorium di kapal. Di layar komputernya, Robyn Matteson, mahasiswa pascasarjana murid Mate, memantau alat penduga gema dan konsentrasi krill yang terdeteksi di perairan kubah. Sebaran krill lebih terkotak-kotak tak seperti yang diperkirakan, tetapi kawanan udang kecil yang rapat memang ada di sini. Di seberang meja laboratorium, di depan komputer mereka masing-masing, Calambokidis dan Erin Oleson dari Scripps Institution of Oceanography mempelajari profil penyelaman yang terekam oleh pening akustik yang berhasil mereka pasang pada beberapa ekor paus. Tag suara, yang dipasang dengan sebuah tongkat dan ditempelkan dengan cawan pengisap, terpasang pada tubuh paus selama berjam-jam, bukan berbulan-bulan, seperti tag satelit yang lebih invasif. Di sini di perairan kubah, pencatat kedalaman pada pening menunjukkan penyelaman sedalam 250 meter dan lebih dalam lagi. Garis vertikal yang menandai setiap penyelaman, dalam upaya mencapai kedalaman yang paling dalam, mulai bergerak zigzag dengan pola gigi gergaji yang merupakan ciri khas paus biru ketika melesat menyantap krill.

Bukti kegiatan melahirkan di Kubah Kosta Rika terbukti lebih sulit diperoleh, tetapi setelah berhari-hari tanpa hasil, bukti itu akhirnya datang juga, ke lambung kanan kapal, dengan terlihatnya sepasang induk dan anak.

Kedua paus itu bergerak lambat, berlama-lama di permukaan. Si induk membuat kami terkejut karena membiarkan anaknya berenang menuju Pacific Storm. Induk paus biasanya menempatkan diri di antara anaknya dan potensi bahaya, tetapi induk yang satu ini rupanya ibu yang santai, semacam ibu bergaya Montessori yang membiarkan anaknya berekspolorasi sendiri.

John Calambokidis berlayar dengan Squall untuk mengambil gambar paus di permukaan guna dijadikan identifikasi foto. Nicklin dan juru kamera Ernie Kovacs menyambar peralatan mereka dan ikut serta. Saat mendekati paus, mereka memakai sepatu katak dan mencebur ke luar perahu. Pada mulanya yang mereka lihat melalui topeng selam hanyalah warna biru. Kemudian, ketika mencari-cari si anak, Kovacs terperangah ketika anak paus itu lewat, mungkin dua meter di bawah sepatu kataknya. Paus ini masih bayi, tetapi punggungnya yang biru melewatinya seakan-akan tak akan pernah berakhir. Si anak yang meluncur di samping Nicklin, berguling sedikit agar bisa menatap Nicklin. Paus kecil itu menatap tajam kaca rumah kamera dan tombol pengunci pada kamera Nicklin balas berkedip.

Setelah 21 hari di Kubah Kosta Rika, kami tidak bisa tinggal lebih lama lagi dan kembali ke utara menuju Acapulco.

Dalam perjalanan pulang, kami menganalisis keberhasilan perjalanan itu. Terdapat beberapa hal yang mengecewakan: seandainya saja kami memasang pening satelit pada lebih banyak paus, seandainya saja kami menyaksikan lebih banyak anak paus, seandainya saja kami mengalami lebih banyak pertemuan dengan paus biru di dalam air. Kami kecewa karena tidak berhasil melihat paus 4172, si banteng putih. Namun secara keseluruhan, kami puas.
Selama tiga pekan menjelajahi perairan kubah, kami berhasil menemukan tiga ekor paus yang dipasangi pening satelit di California dan terlacak di sini. Setiap kali kami mendekati transmisi dari salah satu paus telemetrik ini, kami dapati dia berada di antara kawanan paus yang “bersih” tanpa tag. Pemasangan tag satelit terbukti merupakan metode yang efisien untuk mencari lokasi kawanan paus tanpa tag. Kami telah memasang pening satelit pada tiga ekor paus biru yang baru (tetapi, satu di antaranya gagal mengirimkan sinyal), menempelkan pening akustik pada enam ekor lagi, dan membuat identifikasi foto terhadap sekitar 70 ekor. Tiga belas dari ke-70 ekor ini dari California. Pengarungan ini membuktikan bahwa perairan kubah itu disinggahi sejumlah besar paus biru. Kami menyaksikan banyak tiga serangkai, cinta segi tiga di antara paus biru, dan kami menyaksikan banyak sekali perilaku percumbuan yang menggebu-gebu. Semua itu menyiratkan bahwa kubah adalah tanah perkawinan. Kami menunjukkan tanpa keraguan bahwa paus biru memang mencari makan di sini di musim dingin. Dengan sonobuoy dan tag suara, kami menguping suara A dan B dari nyanyian paus biru dan suara D yang disuarakan paus di antara acara makan, dan dengan demikian mulai mencatat musik musim dingin di kawasan lautan ini.

Berita dari perairan kubah menggembirakan. Makhluk teranggun di antara semua ciptaan sudah diburu oleh kita si kera berakal, hingga nyaris punah. Jumlahnya masih sedikit, tetapi sulit untuk tidak merasa optimistik. Di atas tempat tidurku, ditemani laptop Nicklin, sambil terus menatap potret dari kamera digitalnya yang menampilkan anak paus yang penasaran itu, sepertinya dapat kubaca, dari matanya yang aneh itu, kenakalan jenaka si makhluk raksasa. Kudapati hal ini menggembirakan. Anak paus ini memberi kami harapan.

Dalam pelayaran pulang, kami punya waktu untuk merenung dan aku paham mengapa jejak sirip ekor paus biru begitu memukauku setiap kali aku melihatnya di perairan kubah. Riak melingkar yang besar itu ibarat tanda tangan spesies tersebut, sangat besar dan bandel. Riak itu melompat dengan perkasa dari kertas perkamen. Kegigihannya yang ajaib di permukaan laut, menantang gelombang yang datang silih berganti adalah pertanda baik. Kemunculannya di perairan kubah, tempat berlindung di musim dingin ini, menunjukkan bahwa paus biru pada akhirnya, menantang penggalan sejarah.

Bayi Es Marmut


Kawanan mamut mendekati sungai yang deras. Seekor anak mamut berjalan di dekat kaki induknya yang besar, sesekali menggesekkan belalai ke bulu kaki induknya yang panjang dan berkilau. Langit biru cerah dan angin kering berdesir melintasi rerumputan yang bergoyang laksana ombak laut di stepa selebar 18.000 km yang membentang di busur utara dunia Zaman Es. Musim dingin yang panjang telah berakhir; kicauan burung dan bau lempung basah memenuhi udara.

Mungkin kehangatan mentari membuat sang induk lengah dan untuk sesaat dia kehilangan jejak anaknya. Si bayi mamut mengeluyur ke sungai. Bayi betina itu terpeleset di tepi sungai yang licin dan meluncur ke dalam campuran lumpur, pasir, dan salju yang baru mencair. Si mamut kecil berjuang untuk melepaskan diri, tetapi setiap gerakan yang dibuat justru semakin menenggelamkannya. Lumpur memasuki mulut, belalai, dan matanya; Si kecil yang bingung itu megap-megap, tapi bukannya mendapat udara, malah lumpur yang memenuhi mulutnya. Anak mamut ini terbatuk-batuk, tersedak, dan dilanda kepanikan, lalu dia memekik nyaring ketakutan, sehingga induknya datang berlari. Karena mencoba mengisap udara sekuat tenaga, si bayi mamut menghirup lumpur jauh ke dalam trakea, menyumbat paru-parunya. Ketika induknya sampai ke tepi sungai, si bayi sudah setengah tenggelam dalam lumpur sedingin es dan meronta dengan sia-sia, mengalami gegar jiwa yang cepat. Sang induk menjerit dan berlari bolak-balik di tepi sungai yang lembek, sehingga seluruh kawanan berdatangan. Bledug itu menyaksikan anaknya tenggelam.

Malam turun. Kawanan itu melanjutkan perjalanan, tapi sang induk tinggal. Sinar bulan keemasan memetakan bayangan berpunuknya di lumpur yang berkilau. Bulan tenggelam, dan bintang berkelap-kelip di langit nan dingin. Menjelang fajar, untuk terakhir kalinya dia menatap tempat bumi menelan bayinya, lalu berpaling dan mengikuti kawanan mamut ke utara, menuju padang rumput musim panas.

Pada suatu pagi bulan Mei 2007 di Semenanjung Yamal, Siberia barat laut, seorang penggembala rusa kutub dari suku Nenets bernama Yuri Khudi berdiri di sebuah beting Sungai Yuribey bersama tiga putranya, bermusyawarah mengenai sesosok jasad kecil. Walau belum pernah melihat binatang seperti itu sebelumnya, mereka sangat mengenal jasad itu dari dongeng yang dinyanyikan orang Nenets di balai pertemuan pada malam musim dingin yang gelap. Ini bayi mamont, makhluk buas yang kata orang Nenets berkeliaran di dunia bawah yang gelap dan beku, digembalakan oleh para dewa neraka sama seperti Nenets menggembalakan rusa kutub di tundra. Khudi sudah sering melihat gading mamut, batang berpilin warna kuning madu setebal batang pohon yang ditemukan sukunya setiap musim panas. Namun, dia tak pernah melihat binatang yang utuh, apa lagi yang demikian awet bak mukzizat tersebut. Selain rambut dan kuku yang tak ada lagi, bagian tubuh yang lain masih utuh.

Khudi gelisah. Dia merasa ini penemuan penting yang harus diberitahukan kepada orang lain. Namun, dia tidak mau menyentuh binatang itu karena suku Nenets yakin mamut adalah pertanda malapetaka. Bahkan ada yang mengatakan bahwa barangsiapa menemukan mamut akan mati muda. Khudi bersumpah akan menenangkan penguasa neraka dengan mengorbankan anak rusa kutub dan sesajen vodka. Tapi, Pertama, dia harus menempuh perjalanan 240 kilometer ke selatan, ke kota kecil Yar Sale untuk berkonsultasi dengan teman lamanya Kirill Serotetto yang lebih paham perihal dunia luar. Serotetto mendengarkan cerita temannya lalu bergegas membawanya menemui direktur museum lokal yang membujuk pemerintah setempat untuk menerbangkan Khudi dan Serotetto kembali ke Sungai Yuribey dengan helikopter.
Sayang disayang, saat mereka tiba di beting itu, mamut tersebut telah hilang.

Mamut adalah kelompok gajah bergenus Mammuthus yang telah punah dengan nenek moyang yang meninggalkan Afrika sekitar 3,5 juta tahun lalu dan menyebar ke seantero Eurasia, beradaptasi dengan lingkungan hutan, sabana, dan stepa. Yang paling terkenal di antara makhluk berbelalai ini adalah mamut berbulu tebal, Mammuthus primigenius, sepupu dekat gajah modern dengan ukuran tubuh yang kurang-lebih sama. Binatang ini pertama kali muncul pada pertengahan kala Pleistosen, lebih dari 400.000 tahun lalu, mungkin di Siberia timur laut. Mamut berbulu tebal beradaptasi sangat baik dengan cuaca dingin, berkat lapisan bulu pendek yang tebal rapat, bulu pelindung yang mencapai 90 sentimeter, serta kuping kecil yang ditutupi bulu. Gading besarnya yang melengkung punya fungsi utama untuk bertarung, mungkin juga berguna dalam mengais makanan yang terkubur salju. Karena mamut sering mati dan terkubur dalam endapan yang kemudian beku, banyak jasad binatang itu yang bertahan hingga masa modern, terutama di dalam lapisan tanah beku Siberia yang luas dan tebal.

Sesungguhnya, dongeng alam bawah Nenets benar adanya: tanah bagian dalam di Siberia penuh dengan mamut berbulu tebal. Saat es mencair setiap musim panas, ratusan gading, gigi, dan tulang muncul di tepi sungai, danau, serta di sepanjang pantai. Erosi membebaskan rangka-rangka itu dari tanah beku tempat tulang-tulang itu terbaring selama puluhan ribu tahun. Sejak ahli botani Mikhail Ivanovich Adams menemukan jasad mamut berbulu wol pertama di Siberia pada 1806, sekitar selusin spesimen jaringan lunak lainnya telah ditemukan, termasuk beberapa anak mamut mulai dari yang baru lahir hingga umur setahun. Namun, dari semua jasad berbagai umur itu, tak ada yang selengkap makhluk yang ditemukan Yuri Khudi—dan kini hilang—di Sungai Yuribey.

Pada masa mamut masih hidup, bentang alam di sebagian besar kawasan megafauna itu sangat berbeda dengan tanah lapang nan gersang serta tundra berpaya yang ada di sekeliling Sungai Yuribey masa kini. Saat itu udaranya lebih kering, awan sedikit, dan angin kencang melintasi langit yang sangat biru. Alih-alih tundra, terbentang padang rumput kering yang disebut ahli paleobiologi R Dale Guthrie sebagai stepa mamut. Stepa ini membentang dari Irlandia ke Kamchatka dan menyeberangi jembatan darat Bering ke Alaska, Yukon, dan sebagian besar Amerika Utara. Rerumputan, semak berdaun lebar, dan belukar stepa yang pendek menyediakan makanan bergizi bagi mamut serta berbagai megafauna raksasa yang berbulu lebat—badak berbulu tebal, bison bertanduk panjang bertubuh raksasa, dan berang-berang sebesar beruang, di samping karnivora menyeramkan yang memburu binatang-binatang itu: macan gigi pedang, dubuk gua, serta beruang muka pesek raksasa.

Kemudian, antara 14.000 hingga 10.000 tahun lalu, mamut menghilang dari sebagian besar wilayahnya, bersamaan dengan hilangnya sebagian besar spesies mamalia besar di Belahan Bumi Utara—di beberapa daerah kepunahan ini bahkan mencapai 70 persen. Kepunahan ini demikian meluas, sehingga ada bermacam-macam bencana yang diduga para ilmuwan menyebabkannya—tabrakan meteor, kemarau dan kebakaran, serta penyakit-hiper mematikan yang menyebar antarspesies. Namun, karena kepunahan ini bersamaan waktunya dengan akhir zaman es terakhir, banyak peneliti yakin bahwa penyebab utama kematian massal itu adalah kenaikan suhu yang tajam, yang secara drastis mengubah tetumbuhan. Simulasi komputer baru-baru ini tentang perubahan lanskap pada kala Pleistosen akhir menunjukkan bahwa 90 persen habitat mamut menghilang. “Kami punya bukti kuat bahwa perubahan iklim memainkan peran penting dalam kepunahan mamut,” ujar Adrian Lister, seorang paleontolog dan pakar mamut di Natural History Museum di London. “Di Eurasia, kedua kejadian itu terjadi pada waktu berdekatan.”

Mamut adalah kelompok gajah bergenus Mammuthus yang telah punah dengan nenek moyang yang meninggalkan Afrika sekitar 3,5 juta tahun lalu dan menyebar ke seantero Eurasia, beradaptasi dengan lingkungan hutan, sabana, dan stepa. Yang paling terkenal di antara makhluk berbelalai ini adalah mamut berbulu tebal, Mammuthus primigenius, sepupu dekat gajah modern dengan ukuran tubuh yang kurang-lebih sama. Binatang ini pertama kali muncul pada pertengahan kala Pleistosen, lebih dari 400.000 tahun lalu, mungkin di Siberia timur laut. Mamut berbulu tebal beradaptasi sangat baik dengan cuaca dingin, berkat lapisan bulu pendek yang tebal rapat, bulu pelindung yang mencapai 90 sentimeter, serta kuping kecil yang ditutupi bulu. Gading besarnya yang melengkung punya fungsi utama untuk bertarung, mungkin juga berguna dalam mengais makanan yang terkubur salju. Karena mamut sering mati dan terkubur dalam endapan yang kemudian beku, banyak jasad binatang itu yang bertahan hingga masa modern, terutama di dalam lapisan tanah beku Siberia yang luas dan tebal.

Sesungguhnya, dongeng alam bawah Nenets benar adanya: tanah bagian dalam di Siberia penuh dengan mamut berbulu tebal. Saat es mencair setiap musim panas, ratusan gading, gigi, dan tulang muncul di tepi sungai, danau, serta di sepanjang pantai. Erosi membebaskan rangka-rangka itu dari tanah beku tempat tulang-tulang itu terbaring selama puluhan ribu tahun. Sejak ahli botani Mikhail Ivanovich Adams menemukan jasad mamut berbulu wol pertama di Siberia pada 1806, sekitar selusin spesimen jaringan lunak lainnya telah ditemukan, termasuk beberapa anak mamut mulai dari yang baru lahir hingga umur setahun. Namun, dari semua jasad berbagai umur itu, tak ada yang selengkap makhluk yang ditemukan Yuri Khudi—dan kini hilang—di Sungai Yuribey.

Pada masa mamut masih hidup, bentang alam di sebagian besar kawasan megafauna itu sangat berbeda dengan tanah lapang nan gersang serta tundra berpaya yang ada di sekeliling Sungai Yuribey masa kini. Saat itu udaranya lebih kering, awan sedikit, dan angin kencang melintasi langit yang sangat biru. Alih-alih tundra, terbentang padang rumput kering yang disebut ahli paleobiologi R Dale Guthrie sebagai stepa mamut. Stepa ini membentang dari Irlandia ke Kamchatka dan menyeberangi jembatan darat Bering ke Alaska, Yukon, dan sebagian besar Amerika Utara. Rerumputan, semak berdaun lebar, dan belukar stepa yang pendek menyediakan makanan bergizi bagi mamut serta berbagai megafauna raksasa yang berbulu lebat—badak berbulu tebal, bison bertanduk panjang bertubuh raksasa, dan berang-berang sebesar beruang, di samping karnivora menyeramkan yang memburu binatang-binatang itu: macan gigi pedang, dubuk gua, serta beruang muka pesek raksasa.

Kemudian, antara 14.000 hingga 10.000 tahun lalu, mamut menghilang dari sebagian besar wilayahnya, bersamaan dengan hilangnya sebagian besar spesies mamalia besar di Belahan Bumi Utara—di beberapa daerah kepunahan ini bahkan mencapai 70 persen. Kepunahan ini demikian meluas, sehingga ada bermacam-macam bencana yang diduga para ilmuwan menyebabkannya—tabrakan meteor, kemarau dan kebakaran, serta penyakit-hiper mematikan yang menyebar antarspesies. Namun, karena kepunahan ini bersamaan waktunya dengan akhir zaman es terakhir, banyak peneliti yakin bahwa penyebab utama kematian massal itu adalah kenaikan suhu yang tajam, yang secara drastis mengubah tetumbuhan. Simulasi komputer baru-baru ini tentang perubahan lanskap pada kala Pleistosen akhir menunjukkan bahwa 90 persen habitat mamut menghilang. “Kami punya bukti kuat bahwa perubahan iklim memainkan peran penting dalam kepunahan mamut,” ujar Adrian Lister, seorang paleontolog dan pakar mamut di Natural History Museum di London. “Di Eurasia, kedua kejadian itu terjadi pada waktu berdekatan.”

Tikhonov tahu orang yang paling tertarik pada temuan ini pastilah Dan Fisher, kolega Amerikanya di University of Michigan. Fisher seorang paleontolog berusia 59 tahun yang pendiam. Pria berjenggot putih kaku dan bermata hijau cerdas ini sudah mengabdikan sebagian besar dari 30 tahun terakhirnya untuk memahami kehidupan mamut dan mastodon dari kala Pleistosen, dengan cara memadukan studi fosil dengan riset eksperimental langsung. Karena ingin tahu cara pemburu Paleolitikum menyimpan daging mamut agar tidak basi, Fisher menyembelih seekor kuda beban dengan peralatan batu yang ditatahnya sendiri, lalu dagingnya disimpan dalam kolam penyimpanan. Daging tersebut diawetkan secara alami oleh mikrob laktobasilus yang ada di dalam air, sehingga mengeluarkan bau sedikit asam seperti pekasam yang mengusir pemakan bangkai bahkan di saat daging terapung kembali ke permukaan. Untuk menguji apakah daging itu masih bisa dimakan, Fisher mengiris dan makan steik dari daging itu dua pekan sekali mulai dari Februari hingga pertengahan musim panas, memperlihatkan bahwa para pemburu mamut mungkin menyimpan hasil buruan mereka dengan cara yang serupa.

Tikhonov mengundang Fisher ke Salekhard pada Juli 2007, bersama Bernard Buigues, seorang pemburu mamut Prancis yang membantu mengatur studi ilmiah terahdap beberapa mamut yang ditemukan sebelumnya. Baik Fisher maupun Buigues telah memeriksa beberapa spesimen yang lain, termasuk bayi. Namun, semuanya dalam kondisi yang relatif buruk, dan tidak banyak pemeriksaan yang dapat dilakukan. Lyuba sangat berbeda ceritanya.

“Saat pertama melihatnya,” ujar Fisher, “yang pertama terpikir, Ya Tuhan, sempurna sekali—bahkan bulu matanya pun masih ada! Seakan-akan dia sedang tertidur. Tiba-tiba, makhluk yang selama ini susah payah kubayangkan tergeletak di hadapanku, dapat kusentuh.” Selain kehilangan rambut dan kuku, serta kerusakan yang terjadi pasca penemuan, satu kekurangan pada penampilannya yang sempurna itu hanyalah lekuk aneh di wajahnya, tepat di atas belalai. Akan tetapi, kondisi secara umum serta punuk lemak tebal di tengkuk menunjukkan bayi itu berada dalam kondisi prima saat menemui ajal. Pemeriksaan yang lebih mendalam terhadap gigi, organ dalam, isi perut, dan beberapa hal lainnya menjanjikan banyak informasi baru mengenai biologi dan cara hidup mamut normal.

Fisher terutama tertarik pada satu bagian khusus dari anatomi Lyuba: gading susunya. Gading merupakan gigi seri termodifikasi yang terus tumbuh berlapis-lapis sepanjang hayat binatang tersebut. Selama 30 tahun mempelajari gading mamut, Fisher menemukan bahwa lapisan ini bertambah secara bertahap setiap tahun, minggu, dan bahkan hari. Lapisan itu, seperti lingkaran kambium pohon, berisi catatan terperinci mengenai riwayat hidup binatang tersebut. Lapisan yang tebal menandakan gemah ripah rumput musim panas, sementara yang tipis menunjukkan masa paceklik di musim dingin. Dari menipisnya lapisan tersebut secara mendadak sekitar tahun ke-12, Fisher dapat mengetahui kapan jantan muda mencapai kematangan seksual dan diusir oleh induknya dari kawanan matriarkal; beberapa tahun kemudian terlihat tanda-tanda pertempuran sengit antara mamut meta dewasa yang memperebutkan pasangan. Akhirnya, pada lapisan di pangkal gading yang terbentuk paling akhir, Fisher memperoleh petunjuk mengenai cara binatang tersebut menemui ajalnya—lapisan yang perlahan menipis disebabkan oleh cedera, sakit, atau tekanan lingkungan, sementara jika tetap terlihat bagus berarti mati mendadak. Dia juga mendapati bahwa tingkat unsur kimia dan isotop tertentu di gading memberikan data tentang pakan binatang tersebut, situasi iklim, bahkan perubahan lokasi yang signifikan seperti migrasi.

Sepanjang kariernya, Fisher telah mengambil ratusan sampel gading dan dia yakin gading-gading tersebut mengandung jawaban bagi misteri kepunahan besar di kala Pleistosen akhir. Setidaknya di kawasan Great Lakes di Amerika Utara, tempat sebagian besar sampelnya ditemukan, gading mamut dan mastodon memperlihatkan bahwa binatang-binatang tersebut terus berkembang biak, walau terjadi perubahan iklim pada Pleistosen akhir. Di sisi yang lain bagi Fisher, gading itu sering menjadi pertanda adanya perburuan oleh manusia. Sampelnya dari akhir masa kejayaan mamut biasanya berasal dari hewan yang mati pada musim gugur. Saat itu mamut seharusnya memiliki kondisi fisik terbaik setelah merumput selama musim panas, dan kecil kemungkinan mati secara alami. Akan tetapi, saat itu juga manusia pemburu sibuk mengumpulkan cadangan pangan untuk musim dingin yang akan tiba. Gading-gading ini umumnya berasal dari mamut jantan, yang seperti gajah yang masih ada sekarang, mungkin hidup menyendiri dan lebih mudah diburu daripada betina yang hidup dalam kawanan matriarkal. Banyak jasad yang ditemukan dalam rawa gambut atau dalam air, yang menurut Fisher menjadi tempat pengawetan daging kaum pemburu awal. Spesimen Amerika Utara juga memperlihatkan rata-rata usia dewasa semakin rendah seiring waktu, yang menurut Fisher mungkin juga disebabkan oleh maraknya perburuan. Dia tak banyak melakukan penelitian di Siberia, tetapi pengukurannya terhadap gading dari Pulau Wrangel di lepas pantai Siberia timur laut, tempat mamut terakhir mati 3.900 tahun lalu, memberikan kesimpulan yang serupa.

Bagaimanapun, satu persoalan dalam menafsirkan gading mamut adalah gadingnya hampir tak pernah ditemukan terpasang pada binatangnya sendiri, sehingga itu menyulitkan Fisher dalam menguji kebenaran teorinya tentang kesehatan dan usia mamut. Kondisi Lyuba yang luar biasa awet sepertinya akan mengubah hal tersebut. Dengan memberi bukti langsung tentang pakan dan kondisi kesehatannya, isi perut dan usus serta banyaknya lemak di tubuhnya dapat menjadi penegasan independen bagi "jurnal" singkat pola makan yang tercatat dalam gading susunya yang belum keluar. “Dalam kasus ini kami tidak memerlukan mesin waktu untuk melihat seberapa akurat hipotesis kami,” ujar Fisher. Bahkan, karena gading susu tumbuh sejak awal kandungan hingga sekitar saat dilahirkan, Lyuba dapat memberi wawasan baru tentang periode kunci dalam hidup mamut: saat dalam kandungan (diperkirakan 22 bulan, berdasarkan lama kehamilan gajah), serta saat kelahirannya. Sebagai peristiwa traumatis bagi mamalia, momen kelahiran tercatat dalam struktur mikro gigi berupa garis neonatal yang terlihat jelas. Dengan membandingkan perkembangan gading susu milik Lyuba dengan gajah, pada awalnya para ilmuwan memperkirakan Lyuba berusia empat bulan saat menemui ajal. Dengan menghitung penambahan lapisan gading setelah garis neonatal, usianya akan diketahui secara lebih akurat.

Fisher juga tertarik pada misteri forensik tentang bagaimana dan mengapa mamut kecil yang sehat itu mati muda—dan apakah hal itu terkait dengan lekuk dalam yang aneh di wajahnya. “Ciri tersebut langsung terlihat, walaupun pada saat itu saya tak dapat membayangkan apa arti dan penyebabnya,” kata Fisher.

Untuk memulai analisis, sampel jaringan Lyuba dikirim ke Belanda untuk menjalani penanggalan karbon-14 yang memperlihatkan bahwa bayi mamut itu mati sekitar 40.000 tahun lalu. Namun, agar para ilmuwan dapat meneliti dengan lebih saksama, Lyuba sendiri harus berangkat. Pada Desember 2007 Buigues mengatur agar spesimen tersebut dikirim ke Jepang dalam kontainer berpendingin untuk menjalani pindai tomografi komputer oleh Naoki Suzuki dari Fakultas Kedokteran Universitas Jikei. Pemeriksaan tersebut memastikan bahwa kerangka, gigi, dan jaringan lunak Lyuba tidaklah rusak dan sebagian besar organ dalamnya tampak utuh. Sementara itu, ujung belalai, kerongkongan, mulut, dan saluran napasnya berisi endapan padat. Itu membuat Fisher menarik kesimpulan bahwa binatang itu menemui ajal karena mengalami asfiksia (tubuh kekurangan oksigen) di dalam lumpur. Pemindaian juga menunjukkan sejumlah bercak tidak tembus sinar X pada jaringan lunaknya serta distorsi pada tulang-tulang tertentu. Beberapa anomali ini menggarisbawahi teka-teki lain: Setelah 40 alaf terbenam dalam tanah—dan entah berapa lama berada di permukaan—mengapa kondisi Lyuba masih sangat awet?

Kondisi Lyuba yang mengagumkan itu tampak semakin penuh tanda tanya pada Mei 2008, saat Fisher dan Buigues mengunjungi Sungai Yuribey. Tak jauh di hulu beting tempat Lyuba ditemukan, terdapat tebing curam yang bagian bawahnya terus ke atas tak henti digerus air sungai. Bongkah-bongkah lapisan tanah beku, beberapa ada yang sebesar rumah, menggantung di tepi tebing itu. Mungkin Lyuba beku di dalam bongkah seperti itu, yang jatuh ke sungai saat musim panas sebelumnya, mengapung ke hilir, dan akhirnya terdampar di beting ketika sungai yang meluap karena lelehan es akhirnya mencapai ketinggian itu. Tinggal satu masalah: Anak Yuri Khudi menemukan Lyuba di sana pada Mei 2007, sebelum es musim semi mencair. Selain dia naik dari alam bawah dan berjalan sendiri ke beting itu, Satu-satunya penjelasan adalah, Lyuba terbebas dari es abadi dan terdampar di beting itu hampir setahun sebelum ditemukan, saat es mencair pada Juni 2006. Bagi Fisher, saat berdiri di tempat itu dua tahun kemudian, hal itu tidak masuk akal.

“Dia tergeletak di tepi sungai ini selama itu,” katanya kepada Buigues, “termasuk terkena sinar matahari sepanjang musim panas. Mengapa tidak membusuk atau dimakan binatang?”

Fisher dan Buigues sudah mengerahkan segala daya untuk memahami keadaan saat bayi mamut itu menemui ajalnya serta keawetannya yang misterius. Jawaban selanjutnya harus datang dari Lyuba sendiri.

en normal tulang dan otot terikat erat. “Ini sangat mengejutkanku,” kata Fisher. “Saya berulang-ulang membatin, 'Apa yang terjadi di sini? Apa arti hal ini?' Tapi tak banyak waktu untuk merenung.”

Area tak tembus sinar x yang terlihat pada pindai CT ternyata kristal vivianit berwarna biru cemerlang, mungkin terbentuk dari fosfat yang larut dari tulang. Fisher mendapati ada campuran padat tanah liat dan pasir di mulut dan kerongkongan Lyuba yang mendukung hipotesis dari pindai CT bahwa dia kehabisan napas, mungkin, dalam lumpur di tepi sungai. Bahkan, endapan di belalai Lyuba demikian padat, sehingga Fisher berpendapat hal itu mungkin menyebabkan lekuk yang terjadi di wajahnya. Jika Lyuba berjuang dengan panik untuk bernapas dan menghirup udara dengan paksa, mungkin tercipta ruang vakum di pangkal belalainya sehingga menyedot jaringan lunaknya hingga menempel ke kening.

Bagi Fisher, penyebab kematian Lyuba sudah jelas. (Suzuki kemudian mengajukan penafsiran yang berbeda karena melihat lebih banyak bukti tentang mati tenggelam dibandingkan mengalami asfiksia.) Pada akhir autopsi, saat Fisher dan para koleganya menjahit kembali tubuh kecil Lyuba, dia akhirnya ingat tentang bau yang khas itu. Setelah pikirannya lebih santai usai upaya intensif tiga hari terakhir, dia tiba-tiba teringat eksperimen kuda bebannya serta bau yang dikeluarkan oleh potongan daging membengkak yang secara alami dijadikan pekasam oleh laktobasilus saat mengapung di kolam. Lyuba memiliki bau yang sama. Akhirnya, kondisi Lyuba yang sangat awet terjelaskan. Secara harfiah, mamut kecil itu terasamkan setelah mati. Itu membuat tubuhnya tidak membusuk saat kembali terpapar udara, ribuan tahun setelahnya. Asam laktat yang dihasilkan mikrob juga dapat menyebabkan distorsi tulang yang unik dan pelepasan otot yang diamati Fisher selama autopsi dan bahkan mungkin mendorong pembentukan kristal vivianit dengan cara melepaskan fosfat dari tulang.

Jadi, Lyuba mungkin tewas karena tergelincir di dekat sungai berlumpur dan diawetkan demi ilmu pengetahuan oleh kombinasi antara kebetulan biokimia dan oleh tekad bulat seorang gembala Nenets. Walau penelitian masih berlangsung, Lyuba sudah mulai mengungkap rahasia mengenai hidupnya yang singkat dan beberapa petunjuk tentang nasib spesiesnya. Keadaannya yang sehat dan cukup makan juga terlihat di perkembangan giginya menjadi suatu pengesahan yang memuaskan Fisher karena catatan gigi seperti itu adalah sampel yang akurat. Dengan demikian, evaluasi kesehatan dapat dilakukan berdasarkan gigi saja—dan itu menjadi kunci untuk meneliti penyebab kepunahan mamut. Analisis DNA-nya yang awet menunjukkan bahwa bayi ini jelas termasuk populasi Mammuthus primigenius tertentu yang, tak lama setelah kematiannya, digantikan oleh populasi lain yang bermigrasi ke Siberia dari Amerika Utara. Khusus untuk Lyuba, ditemukan ususnya mengandung tinja mamut dewasa, mungkin induknya: suatu bukti bahwa anak mamut, seperti saudara gajah modernnya, memakan kotoran induknya untuk mengisi usus dengan mikrob, sebagai persiapan untuk mencerna tumbuhan.

Akhirnya, gading dan geraham kecil Lyuba memperlihatkan bahwa dia lahir pada akhir musim semi dan baru berumur sebulan saat mati. Beberapa lapisan terluar gadingnya sesuai dengan pola yang dikaitkan Dan Fisher dengan kematian mendadak: rangkaian hari makmur yang berakhir dengan tak disangka-sangka.

Kucing


Kucing, Felis silvestris-catus, adalah sejenis karnivora. Kata "kucing" biasanya merujuk kepada "kucing" yang telah dijinakkan, tetapi bisa juga merujuk kepada "kucing raksasa" seperti singa, harimau, macan dan sebagainya.

Kucing telah berbaur dengan kehidupan manusia paling tidak sejak 3.500 tahun yang lalu, ketika orang Mesir kuno menggunakan kucing untuk menjauhkan tikus atau hewan pengerat lain dari hasil panen. Saat ini, kucing adalah salah satu hewan peliharaan terpopuler di dunia. Kucing yang garis keturunannya tercatat secara resmi sebagai kucing ras atau galur murni (pure breed), seperti persia, siam, manx, sphinx. Kucing seperti ini biasanya dibiakkan di tempat pemeliharaan hewan resmi. Jumlah kucing ras hanyalah 1% dari seluruh kucing di dunia. Sisanya adalah kucing dengan keturunan campuran seperti kucing liar atau kucing kampung.

Kucing peliharaan atau kucing rumah adalah salah satu predator terhebat di dunia. Kucing ini dapat membunuh atau memakan beberapa ribu spesies—kucing besar biasanya kurang dari 100. Tetapi karena ukurannya yang kecil, kucing tidak berbahaya bagi manusia— satu-satunya bahaya yang dapat timbul adalah kemungkinan terjadinya infeksi rabies akibat gigitan kucing. Kucing dapat berakibat fatal bagi suatu ekosistem yang bukan tempat tinggal alaminya. Pada beberapa kasus, kucing berperan atau menyebabkan kepunahan. Kucing menyergap dan melumpuhkan mangsa dengan cara yang mirip dengasinga dan hariamau — menggigit leher mangsa dengan gigi taring yang tajam sehingga melukai saraf tulang belakang atau menyebabkan mangsa kehabisan napas dengan merusak tenggorokan.

Kucing dianggap sebagai "karnivora yang sempurna" dengan gigi dan saluran pencernaan yang khusus. Gigi premolar dan molar pertama membentuk sepasang taring di setiap sisi mulut yang bekerja efektif seperti gunting untuk merobek daging. Meskipun ciri ini juga terdapat pada famili Canidae atauanjing, tapi ciri ini berkembang lebih baik pada kucing. Tidak seperti karnivora lain, kucing hampir tidak makan apapun yang mengandung tumbuhan. Beruang dan anjing kadang memakan buah, akar, atau madu sebagai suplemen jika ada sementara kucing hanya memakan daging, biasanya buruan segar. Dalam penangkaran, kucing tidak dapat diadaptasikan dengan diet vegetarian karena mereka tidak dapat mensintesis semua asam-asam amino yang mereka butuhkan hanya dengan memakan tumbuhan; berbeda dengan anjing peliharaan, yang sering diberi makan produk campuran daging dan sayuran dan kadang dapat beradaptasi dengan diet vegetarian secara total.

Meskipun memiliki reputasi sebagai hewan penyendiri, kucing biasanya dapat membentuk koloni liar tetapi tidak menyerang dalam kelompok seperti singa. Setiap kucing memiliki daerahnya sendiri (jantan yang aktif secara seksual memiliki daerah terbesar, sedang jantan steril memiliki daerah paling kecil) dan selalu terdapat daerah "netral" dimana para kucing dapat saling mengawasi atau bertemu tanpa adanya konflik teritorial atau agresi. Di luar daerah netral ini, penguasa daerah biasa akan mengejar kucing asing, diawali dengan menatap, mendesis, hingga menggeram, dan bila kucing asing itu tetap tinggal, biasanya akan terjadi perkelahian singkat. Kucing yang sedang berkelahi menegakkan rambut tubuh dan melengkungkan punggung agar mereka tampak lebih besar. Serangan biasanya terdiri dari tamparan di bagian wajah dan tubuh dengan kaki depan yang kadang disertai gigitan. Luka serius pada kucing akibat perkelahian jarang terjadi karena pihak yang kalah biasanya akan lari setelah mengalami beberapa luka di wajah. Jantan yang aktif biasanya sering terlibat banyak perkelahian sepanjang hidupnya. Hal ini tampak pada berbagai luka di bagian wajah, seperti hidung atau telinga. Kucing betina kadang juga terlibat perkelahian untuk melindungi anak-anaknya bahkan kucing steril pun akan mempertahankan daerah kecilnya dengan gigih.

Melihat dari perilaku kucing yang ada saat ini, kucing liar yang merupakan nenek moyang kucing peliharaan diperkiraan berevolusi pada iklim gurun. Kucing senang dengan suasana hangat dan sering tidur di bawah hangatnya sinar matahari. Kotorannya biasanya kering dan kucing lebih suka menguburnya di tempat berpasir. Kucing dapat mematung, tidak bergerak cukup lama terutama ketika sedang mengintai mangsa atau bersiap untuk "pounce".

Karena memiliki kekerabatan yang dekat dengan binatang gurun, ketahanan kucing terhadap panas dan dinginnya iklim daerah subtropis agak terbatas. Kucing tidak tahan terhadap kabut, hujan, dan salju, meskipun ada beberapa jenis seperti Norwegian Forest Cat dan Maine Coon yang mampu bertahan; dan berusaha mempertahankan suhu tubuh normalnya, yaitu 39°C, dalam keadaan basah.Kebanyakan kucing tidak suka berendam dalam air, kecuali jenis Turkish Van.

Masa kehamilan atau gestasi pada kucing berkisar 63 hari. Anak kucing terlahir buta dan tuli. Mata mereka baru terbuka pada usia 8-10 hari. Anak kucing akan disapih oleh induknya pada usia 6-7 minggu dan kematangan seksual dicapai pada umur 10-15 bulan. Kucing dapat mengandung 4 janin sekaligus karena rahimnya memiliki bentuk yang khusus dengan 4 bagian yang berbeda.

Kucing biasanya memiliki berat badan antara 2,5 hingga 7 kilogram dan jarang melebihi 10 kg. Bila diberi makan berlebihan, kucing dapat mencapai berat badan 23 kg. Tapi kondisi ini amat tidak sehat bagi kucing dan harus dihindari. Dalam penangkaran, kucing dapat hidup selama 15 hingga 20 tahun, kucing tertua diketahui berusia 36 tahun. Kucing peliharaan yang tidak diperbolehkan keluar rumah dan disterilkan dapat hidup lebih lama (mengurangi resiko perkelahian dan kecelakaan). Kucing liar yang hidup di lingkungan urban modern hanya hidup selama 2 tahun atau bahkan kurang dari itu.

Kucing peliharaan yang tinggal di dalam rumah harus diberi kotak kotoran yang berisi pasir atau bahan khusus yang dijual di toko hewan peliharaan. Perlu juga disediakan tempat khusus bagi kucing untuk mencakar. Hal ini penting karena kucing memerlukan kegiatan mencakar ini untuk menanggalkan lapisan lama pada kukunya agar kukunya dapat tetap tajam dan terjaga kesehatannya. Tidak adanya tempat khusus ini akan menyebabkan kucing banyak merusak perabotan.

Sering kali kucing menunjukkan perilaku memilih makanan. Hal ini dikarenakan mereka memiliki organ pembau khusus di langit-langit mulutnya yang disebut sebagai organ vomeronasal atau organ Jacobson. Ketika organ ini terstimulasi oleh suatu jenis makanan tertentu, kucing akan menolak makanan selain makanan itu.

Kucing dapat melihat dalam cahaya yang amat terang. Mereka memiliki selaput pelangi atau iris membentuk celah pada mata yang akan menyempit. Meskipun demikian, penyempitan ini juga mengurangi bidang pandang kucing. Suatu organ yang disebut tapetum lucidum digunakan dalam lingkungan dengan sedikit cahaya. Organ inilah yang menyebabkan warna-warni mata kucing ketika difoto dengan menggunakan blitz. Seperti kebanyakan predator, kedua mata kucing menghadap ke depan, menghasilkan persepsi jarak dan mengurangi besarnya bidang pandang. Mata kucing memiliki persepsi kromatik yang lemah.

Ketika cahaya yang ada terlalu sedikit untuk melihat, kucing akan menggunakan "kumis" atau misainya (vibrissae) untuk membantunya menentukan arah dan menjadi alat indera tambahan. Misai dapat mendeteksi perubahan angin yang amat kecil, membuat kucing dapat mengetahui adanya benda-benda di sekitarnya tanpa melihat.

Kucing memiliki kelopak mata ketiga yang disebut membrana niktitans. Kelopak ketiga ini terdiri dari suatu lapisan tipis yang dapat menutupi mata dan nampak ketika mata kucing terbuka. Membran ini menutup sebagian ketika kucing sedang sakit. Kadang kucing yang amat mengantuk atau gembira juga memperlihatkan membran ini.

Umumnya semua daun telinga kucing tegak. Tidak seperti pada anjing, kucing dengan telinga terlipat amat jarang ditemukan. Jenis Scottish Fold adalah salah satu jenis kucing dengan mutasi genetik yang langka ini. Ketika marah atau takut, daun telinga kucing jenis ini akan tertekuk ke belakang sementara si kucing mengeluarkan suara menggeram atau mendesis. Ketika mendengarkan suatu suara, daun telinga kucing akan bergerak ke arah sumber suara; daun telinga kucing dapat mengarah ke depan, ke samping, bahkan seolah menoleh ke belakang.

Kucing termasuk hewan yang bersih. Mereka sering merawat diri dengan menjilati rambut mereka. Saliva atau air liur mereka adalah agen pembersih yang kuat, tapi dapat memicu energi pada manusia. Kadang kala kucing memuntahkan hairball atau gulungan rambut yang terkumpul di dalam perut mereka.

Kucing menyimpan energi dengan cara tidur lebih sering ketimbang hewan lain. Lama tidur kucing bervariasi antara 12-16 jam per hari, dengan angka rata-rata 13-14 jam. Tetapi tidak jarang dijumpai kucing yang tidur selama 20 jam dalam satu hari.


Anjing

Anjing adalah mamalia karnivora yang telah mengalami domestikasi dari serigala sejak 15.000 tahun yang lalu atau mungkin sudah sejak 100.000 tahun yang lalu berdasarkan bukti genetik berupa penemuan fosil dan tes DNA. Penelitian lain mengungkap sejarah domestikasi anjing yang belum begitu lama.

Anjing telah berkembang ratusan ras dengan berbagai macam variasi, mulai dari anjing tinggi badan beberapa puluh cm seperti Chihuahua hingga Irish Wolfhound yang tingginya lebih dari satu meter. Warna bulu anjing bisa beraneka ragam, mulai dari putih sampai hitam, juga merah, abu-abu (sering disebut "biru"), dan coklat. Selain itu, anjing memiliki berbagai jenis bulu, mulai dari yang sangat pendek hingga yang panjangnya bisa mencapai beberapa sentimeter. Bulu anjing bisa lurus atau keriting, dan bertekstur kasar hingga lembut seperti benang wol.

Bukti baru mengungkap anjing pertama kali didomestikasi di Asia Timur, kemungkinan di Tiongkok. Manusia pertama yang menginjakkan kaki di Amerika Utara membawa serta anjing dari Asia. Penelitian genetika telah berhasil mengidentifikasi 14 ras anjing kuno. Di antaranya, Chow Chow, Sharpei, Akita, Shiba dan Basenji merupakan ras anjing yang tertua. Teori yang mengatakan anjing berasal dari Asia mungkin bisa dipercaya karena sebagian besar dari 14 ras anjing kuno berasal dari China dan Jepang.

Anjing merupakan hewan sosial sama seperti halnya manusia. Kedekatan pola perilaku anjing dengan manusia menjadikan anjing bisa dilatih, diajak bermain, tinggal bersama manusia, dan diajak bersosialiasi dengan manusia dan anjing yang lain. Anjing memiliki posisi unik dalam hubungan antarspesies. Kesetiaan dan pengabdian yang ditunjukkan anjing sangat mirip dengan konsep manusia tentang cinta dan persahabatan. Walaupun sudah merupakan naluri alami anjing sebagai hewan kelompok, pemilik anjing sangat menghargai kesetiaan dan pengabdian anjing dan menganggapnya sebagai anggota keluarga sendiri. Anjing kesayangan bahkan sering sampai diberi nama keluarga yang sama seperti nama pemiliknya. Sebaliknya, anjing menganggap manusia sebagai anggota kelompoknya. Anjing hanya sedikit membedakan kedudukan sang pemilik dengan rekan anjing yang masih satu kelompok, dan bahkan sering tidak membedakannya sama sekali.

Orang senang memelihara anjing karena anjing binatang yang pintar. Anjing dianggap mempunyai kecerdasan yang cukup tinggi menurut penelitian ilmiah dan bukti-bukti lapangan. Tingkat kecerdasan anjing bergantung pada ras dan masing-masing anjing secara individu. Anjing ras Border Collie terkenal dapat mematuhi dan menjalankan berbagai macam perintah. Anjing ras lain mungkin tidak tertarik untuk menuruti perintah manusia, tapi lebih suka menunjukkan kepintaran dalam hal-hal lain seperti menggembalakan hewan ternak.

Asal-usul anjing sebagai keturunan serigala yang hidup berkelompok membuat anjing jadi lebih mudah dilatih dibandingkan hewan lain. Sebagai anggota kelompok, anjing mempunyai naluri untuk patuh. Sebagian besar anjing memang sering tidak perlu berurusan dengan tugas yang rumit-rumit, sehingga tidak ada kesempatan belajar hal-hal yang sulit seperti membuka pintu tanpa bantuan manusia. Anjing yang sudah dilatih sebagai anjing penuntun bagi tuna netra dapat mengenali berbagai macam keadaan bahaya dan cara menghindar dari keadaan tersebut

Anjing ras sangat bervariasi dalam ukuran, penampilan dan tingkah laku dibandingkan dengan hewan peliharaan yang lain. Sebagian besar anjing masih mempunyai ciri-ciri fisik yang diturunkan dari serigala. Anjing adalah hewan pemangsa dan pemakan bangkai, memiliki gigi tajam dan rahang yang kuat untuk menyerang, menggigit, dan mencabik-cabik makanan. Ciri-ciri khas dari moyang serigala masih bertahan pada anjing, walaupun penangkaran secara selektif telah berhasil mengubah bentuk fisik berbagai jenis anjing ras.

Anjing memiliki otot yang kuat, tulang pergelangan kaki yang bersatu, sistem kardiovaskuler yang mendukung ketahanan fisik serta kecepatan berlari, dan gigi untuk menangkap dan mencabik mangsa. Bila dibandingkan dengan struktur tulang kaki manusia, secara teknis anjing berjalan berjingkat dengan jari-jari kaki.

Anjing dulunya disangka dikromatis, sehingga bisa disebut buta warna menurut standar manusia. Tapi penelitian yang dilakukan akhir-akhir ini justru menunjukkan anjing bisa melihat beberapa warna, walaupun tidak seperti yang bisa dilihat manusia. Bagi anjing, warna merupakan sinyal subliminal yang ditangkap untuk membedakan bentuk dari objek yang saling tumpang-tindih, dan bukan warna pada benda yang bisa langsung dibedakan anjing. Menurut penelitian, anjing bisa melihat berbagai nuansa warna kuning, ungu atau violet. Lensa mata anjing lebih datar dibandingkan dengan lensa mata manusia, sehingga anjing kurang bisa melihat secara detil dibandingkan manusia. Sebaliknya, mata anjing lebih sensitif terhadap cahaya dan gerakan dibandingkan mata manusia. Beberapa anjing ras, memiliki bidang pandangan sampai 270°. Sebagai perbandingan, manusia hanya mempunyai bidang pandangan 180°. Bidang pandangan anjing ras dengan kepala lebar dan kedua mata di depan sebenarnya hampir sama dengan manusia, hanya sekitar 180°.

Anjing bisa mendengar suara frekuensi rendah 16 hingga 20 Hz (manusia hanya mendengar frekuensi 20-70 Hz), dan suara frekuensi tinggi dari 70 kHz hingga 100 kHz (manusia hanya mendengar frekuensi 13-20 kHz). Selain itu, anjing bisa menggerak-gerakkan daun telinga agar cepat bisa menentukan lokasi sumber suara yang sebenarnya. Lebih dari 18 otot pada daun telinga memungkinkan anjing memiringkan, memutar, menidurkan, atau menegakkan daun telinga. Anjing mampu menentukan sumber suara lebih cepat dari manusia, sekaligus bisa mendengar suara yang sumbernya empat kali lebih jauh yang dapat didengar manusia. Anjing dengan daun telinga berbentuk alami (tegak seperti daun telinga serigala) biasanya memiliki pendengaran yang lebih baik daripada anjing berdaun telinga jatuh seperti terdapat pada banyak spesies hasil domestikasi.

Anjing memiliki hampir 220 juta sel penciuman yang sensitif terhap bau. Luasnya kira-kira selebar sapu tangan, sangat luas bila dibandingkan sel penciuman yang dimiliki manusia. Sebagai pembanding, manusia hanya memiliki 5 juta sel penciuman yang menempati luas selebar perangko. Beberapa jenis anjing ras bahkan sengaja dibiakkan agar lahir anak anjing dengan indera penciuman yang lebih bagus. Mekanisme pengumpulan informasi di otak anjing berdasarkan partikel-partikel bau yang berhasil diendus belum diketahui secara jelas. Menurut hasil penelitian, anjing dapat membedakan dua jenis bau: partikel bau di udara yang menyebar dari orang atau benda, dan partikel bau di tanah yang masih bisa dideteksi setelah beberapa lama. Karakteristik dua jenis partikel bau kelihatannya cukup berbeda. Partikel bau yang ada di udara mudah hilang, tapi mungkin begitu jelas dan tidak bercampur bau-bauan yang lain, sedangkan partikel bau di tanah relatif lebih permanen. Anjing pelacak harus diajak melakukannya secara berulang-ulang dan berhati-hati, karena bau yang melekat di tanah mudah tercemar dengan bau-bauan yang lain.

Pelatih anjing pelacak sudah mengerti bahwa anjing tidak mungkin lagi diajar untuk melacak bau-bauan di atas kemampuan alami yang dimiliki sejak lahir. Anjing hanya dapat dimotivasi sebaik-baiknya dan diajar agar bisa berkonsentrasi pada jejak bau yang utama. Anjing pelacak yang terlatih harus bisa mengabaikan berbagai jejak bau yang lain. Anjing yang tidak terlatih biasanya senang sekali mengendus berbagai macam bau selain jejak bau yang diperintahkan. Sewaktu melakukan pekerjaan yang meletihkan bagi anjing pelacak (misalnya mencari barang selundupan di atas kapal), anjing harus dimotivasi agar mau kerja keras dalam jangka waktu yang lama.

Sebagian ahli hewan sekarang sedang memperdebatkan anjing peliharaan tergolong binatangomnivora atau karnivora berdasarkan makanan yang dimakan. Klasifikasi ke dalam ordo karnivora tidak berarti anjing harus makan daging melulu. Tidak sama halnya dengan keluarga kucing yang tergolong karnivora sejati dengan usus kecil yang lebih pendek, anjing tidak bergantung pada protein daging tertentu atau makanan tinggi protein untuk memenuhi kebutuhan makan yang paling dasar. Anjing bisa mencerna dengan baik berbagai macam makanan, termasuk di antaranya sayur-sayuran dan serealia yang dapat dikonsumsi anjing dalam porsi yang besar. Tumbuh-tumbuhan dimakan anjing liar untuk memenuhi kebutuhan asam amino. Selain itu, anjing liar juga memakan isi perut dan usus berisi tumbuh-tumbuhan yang sedang dicerna hewan herbivora yang menjadi mangsanya.

Anjing peliharaan bisa bertahan hidup sehat hanya dengan pakan vegetarian yang diramu dengan baik, khususnya yang mengandung susu dan telur. Tapi beberapa sumber justru meragukan hal ini, anjing vegetarian dikuatirkan bisa mengalami pembesaran otot jantung dilated ocardimyopathy akibat kekurangan asam amino L-Karnitin. Walaupun demikian, anjing bisa tetap sehat kalau diberi gizi yang seimbang karena L-karnitin secara alami dikandung berbagai jeniskacang-kacangan, biji-bijian, sayur-sayuran, buah-buahan, dan serealia tanpa kupas kulit. Di alam bebas, anjing bisa bertahan hidup dengan makanan vegetarian kalau hewan buruan sedang tidak ada. Tapi berdasarkan penelitian ilmiah dan pengalaman sewaktu perlombaan Iditarod race yang mengharuskan anjing bertahan berhari-hari dalam keadaan alam yang ganas, anjing harus mendapat makanan tinggi protein (kadar 40%) termasuk daging untuk mencegah kerusakan jaringan otot. Penelitian serupa juga berlaku untuk hewan mamalia yang lain. Protein dalam prosentase tinggi dikonsumsi anjing liar kalau hewan buruan sedang melimpah. Pemberian makanan dengan protein yang lebih tinggi dari tingkat prosentase yang dibutuhkan kelihatannya tidak ada tambahan manfaatnya bagi anjing.

Anjing sering keranjingan makan rumput dan sebenarnya boleh-boleh saja. Ada banyak penjelasan tentang kebiasaan ini. Rumput dapat menetralisir asam lambung atau memakan rumput bisa membuat anjing muntah. Alasan anjing makan rumput mungkin kerena ingin mengeluarkan zat yang tidak diinginkan dari perut. Sedangkan dalam soal muntah, anjing lebih mudah muntah daripada manusia. Kemampuan ini berasal dari kebiasaan makan yang dimiliki hewan yang berburu secara berkelompok. Makanan harus ditelan secepat mungkin supaya bisa makan sebanyak-banyaknya sebelum dihabiskan anggota kawanan yang lain. Sehabis makan, anjing sering memuntahkan kembali tulang-tulang yang tidak bisa dicerna, bulu hewan yang dimangsa, dan sebagainya. Sebagian anjing peliharaan malah cerewet dan menjadi "pilih-pilih" dalam soal makanan, soalnya tidak lagi perlu makan untuk sekadar bertahan hidup.

Form

Contact form - Powered by Mail-Maniac
Your name
Your emailaddress
Comments
Submit a file

This form is powered by the Mail-Maniac form mailer